Thursday, January 31, 2013

Shade

0

Aku tertunduk melihat Jui yang nampak sangat tampan dengan kemeja merah maroonnya. Seperti seorang pangeran yang dengan sangat berwibawa berjalan mondar-mandir memantas-mantaskan diri di depan kaca. Entahlah… apa maksudnya, sepertinya dia ingin membutakan mataku lewat pesonanya yang luar biasa.
            Aku hanya menghela napas. Berat.
            Bukan kah selama 1 tahun ini aku hidup dengan sekelumit rasa cintaku yang penuh kepalsuan padanya? Ya! Benar! Aku saat ini sedang menyia-nyiakan keberuntunganku yang  mendapatkan laki-laki semacam dia! Yang mungkin tidak sengaja memamerkan kesempurnaannya yang bisa terlihat secara kasat mata.
            “Hei, Hika! Lihat! Bagaimana?”katanya sambil tersenyum lembut.
            Aku mengangguk sesumringah mungkin. Aku sebenarnya tak cukup mengerti kenapa aku bertingkah seperti ini. Lalu, harus bagaimana agar dia mengerti jika aku tidak suka caranya bertingkah seolah-olah aku sangat menyukainya?
            “Terimakasih, Hika,” bisiknya manis sambil memelukku. Suaranya lembut. Sangat halus dan pelan memasuki telingaku.
            Dia melepaskan pelukannya, berjalan keluar kamar dengan langkah tegapnya. Dan gayanya saat menutup pintu pun amat sangat membuatku tertusuk. Ya! Dia melambaikan tangan dan tersenyum manis meninggalkanku sendirian di kamarnya seolah tidak terjadi apa-apa pada diriku dan batinku.
            Tuhan!! Sungguh! Aku benar-benar tidak menginginkan makhluk itu. Cabut saja nyawaku sekarang agar aku tak lebih lama lagi hidup dalam jiwa yang penuh kebohongan! Aku sungguh tak mencintainya.
            “Hah!!” aku mendengus.
            “Hika,” sapa satu suara yang menyesakkan. Suara dari sang pemilik jasad yang sekelebat mirip dengan jasad Jui. Aku mendongakkan pandanganku ke arahnya yang dengan pandangan tegar sedang berdiri di ambang pintu.
            “Mau pergi?” tanyanya. Dan aku hanya mengangguk. “Hati-hati,” dia tersenyum tenang, lalu meninggalkanku.
            “Rasta,” dia tetap berjalan, tak berniat sedikitpun menoleh dan mengobati hatiku yang sedang tak tau arah, sekalipun aku perkeras suaraku untuk memanggil namanya.
            Ya! Dia Rasta… orang yang sangat kucintai. Kakak dari Jui. Kakak dari pacarku.

***