Aku
hanya sedang berdiri mematung. Menyimpang dari sebuah perasaan yang membuatku
geram. Aku tahu, jika aku hanyalah manusia yang ditinggalkan dan sedang tidak
diinginkan. Aku juga sangat mengerti jika aku hanya berarti sesosok pengkhianat
yang bahkan tidak pernah tahu bagaimana caranya berterimakasih pada orang yang
berbuat baik padaku. Aku tahu jika aku memang sudah sepantasnya dibenci! Aku
pantas dicaci! Tidak hanya dengan kata ‘anjing’ yang kadang terdengar begitu
ngilu! Tidak dengan kata ‘bajingan’ yang membuatklu benar-benar seperti orang
yang terbuang…
Seberapa
besar salahku hingga aku harus mengemis maaf demi sepeser uang yang bahkan kau
perhitungkan? Untuk apa aku hidup tapi sebenarnya pun bernapas dengan hutang?
Bukankah lebih baik aku mati, seperti doamu padaku? Bukankah lebih baik aku
hilang, seperti yang sudah-sudah…? Ya! Ya!! Kadang ingin kumuntahkan semua di
hadapanmu, semua keluh kesah untukmu yang sebenarnya tuli!! Sangat tuli! Dan
bahkan otakmu pun sudah cukup mati! lalu untuk apa aku menjelaskan, jika pada
akhirnya aku juga yang kau salahkan!!
Semuanya
sudah jelas. Kau mengatur matamu sedemikian rupa, hingga aku sangat terlihat
menjijikkan. Pun untuk sekedar dikasihani. Jadi wajar jika kau sekarang
membuangku…
Karna
akhir dari semua ini sudah tertebak dari awal… kau benar-benar akan
membuangku!! Seperti sampah busuk yang tidak kau inginkan.
Terimakasih
sudah memandangku dengan tatapan merendahkan yang hingga sekarang masih menyisakan
sekelumit kebencian. Terimakasih!! Sangat!

