Izinkan aku bertahan
lebih lama daripada ini, Tuhan....
Walau hanya bisa
menarik napas.
Pelan... merasakan
bahwa aku masih benar-benar bisa bernapas....
Lalu tesenyum pasrah
ketika merabai jantung yang tak berpacu sekencang dahulu...
Kau tau?
Rasa-rasanya memang
menyakitkan seperti ini,
Ketika aku sungguh
sadar bahwa hatiku telah hilang...
..
.
Tercuri olehmu...
..
.
Tercuri olehmu...
Aku tahu jika perasaan ini
adalah sebuah kesalahan yang kubentuk sejak awal. Karna ketika aku melangkah
untuk mendekatinya pertama kali, aku sudah tahu jika aku salah langkah. Aku
melangkah perlahan-lahan, mencoba mendekatinya dengan seluruh keberanian yang
ada walaupun aku tak benar-benar tahu bagaimana memulai sebuah percakapan yang
romantis, yang mampu menghentikan sebuah tangis yang dari setengah jam yang
lalu tak kunjung usai.
Dan…
Satu langkah aku mendekatinya. Dan dia tetap menangis. Memeluk
kakinya dengan sangat erat di sudut ruangan itu.
Dua langkah aku mendekatinya. Dia memelankan tangisnya.
Meregangkan pelukannya. Menarik napas panjang dan membuangnya secara perlahan.
Tiga langkah aku mendekatinya. Dia mulai mendongak. Menunjukkan
wajah ayunya yang penuh gurat kepedihan. Tapi sungguh! Dia sangat cantik!!
Empat langkah… dan aku benar-benar tahu dia tertegun sejenak
melihat kedatanganku. Ekspresinya datar. Wajah skeptisnya masih saja terlihat
menarik. Dan aku… semakin tertarik untuk mendekatinya…
Lima langkah… dan dia perlahan-lahan mulai menunduk. Kembali
menenggelamkan tangisnya disela pelukannya yang mulai dieratkan lagi.
Enam langkah… dan aku sangat-sangat mengerti bahwa dia tidak
peduli dengan kehadiranku. Dia mempunyai dunia sendiri yang tak sedikitpun bisa
kujamah.
Dan…
Tujuh langkah… langkah terakhirku untuk mendekatinya. Dan aku…
memilih untuk berbalik. Memilih melihatnya dari kejauhan, dari sudut lain ruang
ini yang tak pernah dia anggap ada. Memilih bersembunyi di balik pilar-pilar
besar keputusasaan yang kubangun sendiri. Melihat kecantikannya dengan
mengendap-endap di balik tumpukan buku. Dan… sekali lagi, aku hanya diam,
ketika melihatnya mulai menangis, kemudian menyeka airmatanya sendiri dengan
penuh ketegaran… dan dari hal ini lah aku sangat tahu, jika aku mulai menyukai
sisi cantiknya yang sangat menyedihkan itu. Tapi, seperti yang sudah-sudah…
selama ini… aku diam.
“Rhe…?”
Aku mulai mencuri pandang ke arah datangnya suara serak itu.
Dengan sangat jelas, kulihat seorang wanita seumuranku mulai menepuk bahu gadis
yang dipanggilnya ‘Rhe’ itu. Mengelus pelan kepalanya. Menopangnya untuk
berdiri. Mengajaknya untuk duduk di kursi sudut yang tepat berada di depanku.
Wanita berambut ikal itu kemudian menatapnya dengan sangat
lekat, seperti meminta sebuah penjelasan akan pertanyaan ‘kenapa?’ yang mungkin
sudah dia simpan semenjak dia melihatnya menangis sendirian.
Dan kemudian, “Rhea… kenapa?”
Dan aku… tersenyum.
Ini adalah sebuah langkah yang benar-benar membuat senyumku
mengembang walau pada kenyataannya aku hanya terdiam di sini. akhirnya, aku
tahu namanya.
Dia Rhea… entah tertulis ‘Rea’ atau ‘Rhea’, tapi aku lebih suka
memanggilnya ‘Rhea’, menyisipkan huruf ‘H’ di dalamnya. Seperti namaku… Ishi.
Bukan ‘Isi’.
***
Semuanya akan tetap sama saja. Ketika aku tak beranjak dari
tempatku bergerilya mengamatinya, dari tumpukan buku yang menenggelamkanku dari
pandangannya. Dari sudut sini… sudut dengan sedikit celah pengharapan akan
hadirnya yang tiba-tiba menengok kearahku dan tersenyum manis, menghapus luka
perihnya yang dia tumpahkan di perpustakaan ini.
Aku beberapa kali mencuri pandang ke arahnya. Kali ini dia,
maksudku Rhea, sedang mengamati satu buku referensi tebal yang dia ambil secara
cepat dari rak pertama yang berada di samping pintu. Berani taruhan, dia hanya
mengambilnya secara acak. Aku benar-benar tahu jika dia langsung menyambar buku
tebal itu tanpa membaca judulnya. Dan sekarang pun aku juga benar-benar
melihatnya yang sedang menaruh mata pada buku tebal lusuhnya itu. Dia
tertunduk. Pandangannya lurus ke arah buku yang berada di hadapannya. Sampul buku
itu terlihat rapi. Tak terbuka. Bahkan dari sini, dari tempatku mengagumi sosok
indahnya, aku bisa melihat jemari lentiknya tak sedikitpun menyentuh
lembaran-lembaran yang kian buram itu.
“Rhe?”
Aku kembali menajamkan mata. Suara berat itu memanggilnya. Memanggil
Rhea.. Ya! Laki-laki itu memanggil gadis yang kukagumi ini!!
Sebuah panggilan yang membuatku melihat Rhea tersenyum. Sangat lembut
dan benar-benar lembut! Sungguh! lengkung bibir dan lengkung matanya sangat
indah. Membentuk sabit tipis yang memukau. Ini beribu-ribu lebih baik daripada
aku melihatnya menangis seperti yang sudah-sudah.
“Rega…?”
Dan adegan selanjutnya adalah sebuah adegan yang ingin
kuhilangkan dalam skenario drama romantis yang kubuat bersama Rhea!!! Sungguh!
aku membenci adegan ini! adegan dimana dengan sangat hangat laki-laki bernama
Rega itu mulai memeluknya. Merengkuh tubuh gadisku dengan sangat gagah. Lalu Rhea?
Dia dengan tersenyum manja, membalas pelukan Rega. “Rega, kau membuatku
khawatir setengah mati! aku mulai menangisimu setiap hari selama kau tak
mengabariku seperti satu bulan ini!!”
Dan Rega hanya menepuk
bahu Rhea pelan, “Maaf, sayang…”
Lalu Rhea hanya
mengangguk. Tersenyum mengiyakan dengan sangat tenang.
Lalu aku? Aku?
Aku hanya tersenyum. Kembali
tenggelam dalam tumpukan buku yang benar-benar menutup diriku dari dunianya. Dari
dunia Rhea dan Rega…
Bukankah dari awal sudah
kubilang bahwa aku sudah salah langkah? Tahu darimana? Dari bahasa tubuh Rhea
yang dulu sesekali menangis sambil mengelus perutnya. Lapar? ahahahahaaaa...
Dan sekarang, terjawab, “Rhe… Aku akan tanggungjawab kok.”
Dan mereka tersenyum.
Dan aku memilih untuk tuli! Tuli dan buta!!
***
Note : mengisi waktu
luang dengan nulis segeje ini. hahahaaaaa :D
Gomen ne… m(_ _)m


No Response to "YOU"
Post a Comment