Sunday, February 3, 2013

YOU

0


Izinkan aku bertahan lebih lama daripada ini, Tuhan....
Walau hanya bisa menarik napas.
Pelan... merasakan bahwa aku masih benar-benar bisa bernapas....
Lalu tesenyum pasrah ketika merabai jantung yang tak berpacu sekencang dahulu...
Kau tau?
Rasa-rasanya memang menyakitkan seperti ini,
Ketika aku sungguh sadar bahwa hatiku telah hilang...
..
.
Tercuri olehmu...

            Aku tahu jika perasaan ini adalah sebuah kesalahan yang kubentuk sejak awal. Karna ketika aku melangkah untuk mendekatinya pertama kali, aku sudah tahu jika aku salah langkah. Aku melangkah perlahan-lahan, mencoba mendekatinya dengan seluruh keberanian yang ada walaupun aku tak benar-benar tahu bagaimana memulai sebuah percakapan yang romantis, yang mampu menghentikan sebuah tangis yang dari setengah jam yang lalu tak kunjung usai.
     Dan…
     Satu langkah aku mendekatinya. Dan dia tetap menangis. Memeluk kakinya dengan sangat erat di sudut ruangan itu.
     Dua langkah aku mendekatinya. Dia memelankan tangisnya. Meregangkan pelukannya. Menarik napas panjang dan membuangnya secara perlahan.
     Tiga langkah aku mendekatinya. Dia mulai mendongak. Menunjukkan wajah ayunya yang penuh gurat kepedihan. Tapi sungguh! Dia sangat cantik!!
     Empat langkah… dan aku benar-benar tahu dia tertegun sejenak melihat kedatanganku. Ekspresinya datar. Wajah skeptisnya masih saja terlihat menarik. Dan aku… semakin tertarik untuk mendekatinya…
     Lima langkah… dan dia perlahan-lahan mulai menunduk. Kembali menenggelamkan tangisnya disela pelukannya yang mulai dieratkan lagi.
     Enam langkah… dan aku sangat-sangat mengerti bahwa dia tidak peduli dengan kehadiranku. Dia mempunyai dunia sendiri yang tak sedikitpun bisa kujamah.
     Dan…
     Tujuh langkah… langkah terakhirku untuk mendekatinya. Dan aku… memilih untuk berbalik. Memilih melihatnya dari kejauhan, dari sudut lain ruang ini yang tak pernah dia anggap ada. Memilih bersembunyi di balik pilar-pilar besar keputusasaan yang kubangun sendiri. Melihat kecantikannya dengan mengendap-endap di balik tumpukan buku. Dan… sekali lagi, aku hanya diam, ketika melihatnya mulai menangis, kemudian menyeka airmatanya sendiri dengan penuh ketegaran… dan dari hal ini lah aku sangat tahu, jika aku mulai menyukai sisi cantiknya yang sangat menyedihkan itu. Tapi, seperti yang sudah-sudah… selama ini… aku diam.
     “Rhe…?”
     Aku mulai mencuri pandang ke arah datangnya suara serak itu. Dengan sangat jelas, kulihat seorang wanita seumuranku mulai menepuk bahu gadis yang dipanggilnya ‘Rhe’ itu. Mengelus pelan kepalanya. Menopangnya untuk berdiri. Mengajaknya untuk duduk di kursi sudut yang tepat berada di depanku.
     Wanita berambut ikal itu kemudian menatapnya dengan sangat lekat, seperti meminta sebuah penjelasan akan pertanyaan ‘kenapa?’ yang mungkin sudah dia simpan semenjak dia melihatnya menangis sendirian.
     Dan kemudian, “Rhea… kenapa?”
     Dan aku… tersenyum.
     Ini adalah sebuah langkah yang benar-benar membuat senyumku mengembang walau pada kenyataannya aku hanya terdiam di sini. akhirnya, aku tahu namanya.
     Dia Rhea… entah tertulis ‘Rea’ atau ‘Rhea’, tapi aku lebih suka memanggilnya ‘Rhea’, menyisipkan huruf ‘H’ di dalamnya. Seperti namaku… Ishi. Bukan ‘Isi’.

***

     Semuanya akan tetap sama saja. Ketika aku tak beranjak dari tempatku bergerilya mengamatinya, dari tumpukan buku yang menenggelamkanku dari pandangannya. Dari sudut sini… sudut dengan sedikit celah pengharapan akan hadirnya yang tiba-tiba menengok kearahku dan tersenyum manis, menghapus luka perihnya yang dia tumpahkan di perpustakaan ini.
     Aku beberapa kali mencuri pandang ke arahnya. Kali ini dia, maksudku Rhea, sedang mengamati satu buku referensi tebal yang dia ambil secara cepat dari rak pertama yang berada di samping pintu. Berani taruhan, dia hanya mengambilnya secara acak. Aku benar-benar tahu jika dia langsung menyambar buku tebal itu tanpa membaca judulnya. Dan sekarang pun aku juga benar-benar melihatnya yang sedang menaruh mata pada buku tebal lusuhnya itu. Dia tertunduk. Pandangannya lurus ke arah buku yang berada di hadapannya. Sampul buku itu terlihat rapi. Tak terbuka. Bahkan dari sini, dari tempatku mengagumi sosok indahnya, aku bisa melihat jemari lentiknya tak sedikitpun menyentuh lembaran-lembaran yang kian buram itu.
     “Rhe?”
     Aku kembali menajamkan mata. Suara berat itu memanggilnya. Memanggil Rhea.. Ya! Laki-laki itu memanggil gadis yang kukagumi ini!!
     Sebuah panggilan yang membuatku melihat Rhea tersenyum. Sangat lembut dan benar-benar lembut! Sungguh! lengkung bibir dan lengkung matanya sangat indah. Membentuk sabit tipis yang memukau. Ini beribu-ribu lebih baik daripada aku melihatnya menangis seperti yang sudah-sudah.
     “Rega…?”
     Dan adegan selanjutnya adalah sebuah adegan yang ingin kuhilangkan dalam skenario drama romantis yang kubuat bersama Rhea!!! Sungguh! aku membenci adegan ini! adegan dimana dengan sangat hangat laki-laki bernama Rega itu mulai memeluknya. Merengkuh tubuh gadisku dengan sangat gagah. Lalu Rhea? Dia dengan tersenyum manja, membalas pelukan Rega. “Rega, kau membuatku khawatir setengah mati! aku mulai menangisimu setiap hari selama kau tak mengabariku seperti satu bulan ini!!”
Dan Rega hanya menepuk bahu Rhea pelan, “Maaf, sayang…”
Lalu Rhea hanya mengangguk. Tersenyum mengiyakan dengan sangat tenang.
Lalu aku? Aku?
Aku hanya tersenyum. Kembali tenggelam dalam tumpukan buku yang benar-benar menutup diriku dari dunianya. Dari dunia Rhea dan Rega…
Bukankah dari awal sudah kubilang bahwa aku sudah salah langkah? Tahu darimana? Dari bahasa tubuh Rhea yang dulu sesekali menangis sambil mengelus perutnya. Lapar? ahahahahaaaa...
     Dan sekarang, terjawab, “Rhe… Aku akan tanggungjawab kok.”
     Dan mereka tersenyum.
     Dan aku memilih untuk tuli! Tuli dan buta!!

***

Note : mengisi waktu luang dengan nulis segeje ini. hahahaaaaa :D
Gomen ne… m(_ _)m

No Response to "YOU"

Post a Comment