Sunday, February 3, 2013

When I see your face...

0


Bait Pagi…
Kau (fotomu) masih tersenyum manis seperti biasa, dalam bingkaian sepetak kecil wallpaper handphone yang selalu ku genggam... melengkapi sejengkal rasa yang ada dan tiada... rasa sesak yang kadang membuncah membuatku tersenyum dan manyun...

"Selamat pagi, cinta..." kataku pada fotomu yang membalasku dengan senyuman bisu.

Dan ini adalah kegiatanku setiap hari…
Ku pandangi netra cantikmu lekat-lekat… Hingga mungkin aku hapal diameter bola matamu, setidaknya hingga aku paham dan mengerti, siapa tau mata di fotomu bisa berkedip, dan memandangku hangat seperti dulu…
Haaah… entahlah…
"Rasanya aku sudah bisa tidur dengan tenang..." aku pun tersenyum, setelah berhasil menyelimuti fotomu yang kedinginan.

Dan paginya…
"Selamat pagi," sapaku padamu yang menebarkan senyum seperti biasa. ku lepaskan kau dari jeratan frame foto yang memenjarakanmu, "Mau makan apa, sayang?"
Dan kau tetap diam, seperti biasanya pula.
Tapi aku tau, arti di balik senyum simpelmu itu bahwa kau adalah ketulusan yang tersenyum untukku.

Lalu malamnya… aku tetap gila!
"Selamat malam, cinta," sapaku pada fotomu yang dengan setia memandangku tanpa berkedip. Tatapan yang sulit untuk diartikan, yang jelas, aku yakin tatapan itu adalah tatapan penuh kerinduan darimu yang tlah lama menghilang.
"Kau mau?" tanyaku sumringah sambil meletakkan secangkir mocca panas, tepat di depanmu, "Minum gih, selagi panas. Ntar keburu dingin lho..."

Aku memang sudah terlalu sakit!!
Tapi setidaknya aku bisa mengobati kerinduanku dengan cara gila seperti ini…
"Hai, bangun dulu... sudah jam segini, sayang..." ujarku semanis mungkin tetap padamu yang sudah tersenyum mendahuluiku. Senyum dan tatapan yang sama, yang sama-sama selalu indah....
Aku menyingkapkan selimut yang menutupi sebagian wajahmu, mengusap pipimu pelan. Pipi yang terasa dingin!! Pipi yang menyakitkanku, ketika aku tau yang ku usap hanyalah gambaran wajahmu yang tertutup kaca pigura yang tak sekalipun bicara menanggapi ucapanku...
"Sayang, aku mengerti," kataku lirih sambil meletakkan fotomu di pinggir jendela, "Kau suka dingin pagi kan?"

Hingga kegilaanku memuncak!!
Aku mencoba bicara pada fotonya untuk mengobati rinduku pada suaranya… “Tenanglah, aku bisa mendengar bisikanmu lewat desir angin yang menerpaku, kok!”
"Kau tau tidak? Warna langitnya senja ini sama seperti warna matamu yang indah," kupandangi paras sempurnamu... Matamu selalu berkata bahwa kau adalah kesetiaan yang menjagaku...
"Apa? Aku berlebihan? Hahaaa! Coba lihatlah sendiri..." kataku. Sekarang bersama fotomu ini kupandangi senja yang mataharinya menyapa kita, di jendela kehidupan yang tlah lama tak terbuka...
"Apa katamu? Aku adalah bulan yang menjemputmu?" aku tertawa ringan disamping jasad gambarmu yang tak hentinya tersenyum..."Kau manis!”

Sampai titik jenuh itu datang! Aku muak merindukannya! Aku muak tak tau dimana dia! Aku takut dia menghilang! Aku takut! Tapi aku juga marah…!!!
"Bicaralah!!!" teriakku lantang memecah gendang telingamu yang tak sedikitpun tergetar, tersekat oleh kaca tebal murahan yang ku sematkan di atasmu.
"Aku ingin mendengar suaramu!!" emosiku mulai lepas kendali, menyentuh pipi tirusmu yang dingin datar, terbatasi kaca bening yang ku selimutkan, "Kenapa kau hanya tersenyum?"
Dan kau tetap tersenyum seperti tadi. Tak berubah!! Tak sedikitpun!!
"Lalu aku harus bagaimana?" tangis itu pun membuncah dari hatiku yang meledak-ledak.
Espresimu sama. Menyunggingkan senyum menawan yang selalu ingin ku miliki. Yang tertutup kaca dan berbingkai pigura…
Lalu?
Aku menyerah. Menyelami kepedihan pada kepasrahan yang terlalu dangkal di otakku.
"Aku mencintaimu," dekapku sehangat mungkin padamu yang dingin. Ah! Tidak! Bukan!
Bukan padamu... Hanya pada fotomu.


Di malam ini.
Yang kosong.
"Matilah..."

No Response to "When I see your face..."

Post a Comment