Bait
Pagi…
Kau (fotomu) masih tersenyum manis
seperti biasa, dalam bingkaian sepetak kecil wallpaper handphone yang selalu ku
genggam... melengkapi sejengkal rasa yang ada dan tiada... rasa sesak yang
kadang membuncah membuatku tersenyum dan manyun...
"Selamat pagi, cinta..." kataku pada fotomu yang membalasku dengan senyuman bisu.
"Selamat pagi, cinta..." kataku pada fotomu yang membalasku dengan senyuman bisu.
Dan
ini adalah kegiatanku setiap hari…
Ku pandangi netra
cantikmu lekat-lekat… Hingga mungkin aku hapal diameter bola matamu, setidaknya
hingga aku paham dan mengerti, siapa tau mata di fotomu bisa berkedip, dan memandangku
hangat seperti dulu…
Haaah… entahlah…
"Rasanya aku sudah
bisa tidur dengan tenang..." aku pun tersenyum, setelah berhasil
menyelimuti fotomu yang kedinginan.
Dan
paginya…
"Selamat
pagi," sapaku padamu yang menebarkan senyum seperti biasa. ku lepaskan kau
dari jeratan frame foto yang memenjarakanmu, "Mau makan apa, sayang?"
Dan kau tetap diam,
seperti biasanya pula.
Tapi aku tau, arti di
balik senyum simpelmu itu bahwa kau adalah ketulusan yang tersenyum untukku.
Lalu
malamnya… aku tetap gila!
"Selamat malam,
cinta," sapaku pada fotomu yang dengan setia memandangku tanpa berkedip.
Tatapan yang sulit untuk diartikan, yang jelas, aku yakin tatapan itu adalah
tatapan penuh kerinduan darimu yang tlah lama menghilang.
"Kau mau?"
tanyaku sumringah sambil meletakkan secangkir mocca panas, tepat di depanmu,
"Minum gih, selagi panas. Ntar keburu dingin lho..."
Aku
memang sudah terlalu sakit!!
Tapi
setidaknya aku bisa mengobati kerinduanku dengan cara gila seperti ini…
"Hai, bangun
dulu... sudah jam segini, sayang..." ujarku semanis mungkin tetap padamu
yang sudah tersenyum mendahuluiku. Senyum dan tatapan yang sama, yang sama-sama
selalu indah....
Aku menyingkapkan
selimut yang menutupi sebagian wajahmu, mengusap pipimu pelan. Pipi yang terasa
dingin!! Pipi yang menyakitkanku, ketika aku tau yang ku usap hanyalah gambaran
wajahmu yang tertutup kaca pigura yang tak sekalipun bicara menanggapi
ucapanku...
"Sayang, aku
mengerti," kataku lirih sambil meletakkan fotomu di pinggir jendela,
"Kau suka dingin pagi kan?"
Hingga
kegilaanku memuncak!!
Aku
mencoba bicara pada fotonya untuk mengobati rinduku pada suaranya…
“Tenanglah, aku bisa mendengar bisikanmu lewat desir angin yang menerpaku,
kok!”
"Kau tau tidak?
Warna langitnya senja ini sama seperti warna matamu yang indah," kupandangi
paras sempurnamu... Matamu selalu berkata bahwa kau adalah kesetiaan yang
menjagaku...
"Apa? Aku
berlebihan? Hahaaa! Coba lihatlah sendiri..." kataku. Sekarang bersama
fotomu ini kupandangi senja yang mataharinya menyapa kita, di jendela kehidupan
yang tlah lama tak terbuka...
"Apa katamu? Aku
adalah bulan yang menjemputmu?" aku tertawa ringan disamping jasad
gambarmu yang tak hentinya tersenyum..."Kau manis!”
Sampai
titik jenuh itu datang! Aku muak merindukannya! Aku muak tak tau dimana dia! Aku
takut dia menghilang! Aku takut! Tapi aku juga marah…!!!
"Bicaralah!!!" teriakku lantang memecah gendang
telingamu yang tak sedikitpun tergetar, tersekat oleh kaca tebal murahan yang
ku sematkan di atasmu.
"Aku ingin mendengar suaramu!!" emosiku mulai
lepas kendali, menyentuh pipi tirusmu yang dingin datar, terbatasi kaca bening
yang ku selimutkan, "Kenapa kau hanya tersenyum?"
Dan kau tetap tersenyum seperti tadi. Tak berubah!! Tak sedikitpun!!
"Lalu aku harus bagaimana?" tangis itu pun membuncah dari hatiku yang meledak-ledak.
Espresimu sama. Menyunggingkan senyum menawan yang selalu ingin ku miliki. Yang tertutup kaca dan berbingkai pigura…
Dan kau tetap tersenyum seperti tadi. Tak berubah!! Tak sedikitpun!!
"Lalu aku harus bagaimana?" tangis itu pun membuncah dari hatiku yang meledak-ledak.
Espresimu sama. Menyunggingkan senyum menawan yang selalu ingin ku miliki. Yang tertutup kaca dan berbingkai pigura…
Lalu?
Aku menyerah. Menyelami kepedihan pada kepasrahan yang terlalu dangkal di otakku.
"Aku mencintaimu," dekapku sehangat mungkin padamu yang dingin. Ah! Tidak! Bukan!
Aku menyerah. Menyelami kepedihan pada kepasrahan yang terlalu dangkal di otakku.
"Aku mencintaimu," dekapku sehangat mungkin padamu yang dingin. Ah! Tidak! Bukan!
Bukan padamu... Hanya pada fotomu.
Di malam ini.
Yang kosong.
"Matilah..."


No Response to "When I see your face..."
Post a Comment