Wednesday, February 27, 2013

A

0
Aku hanya sedang berdiri mematung. Menyimpang dari sebuah perasaan yang membuatku geram. Aku tahu, jika aku hanyalah manusia yang ditinggalkan dan sedang tidak diinginkan. Aku juga sangat mengerti jika aku hanya berarti sesosok pengkhianat yang bahkan tidak pernah tahu bagaimana caranya berterimakasih pada orang yang berbuat baik padaku. Aku tahu jika aku memang sudah sepantasnya dibenci! Aku pantas dicaci! Tidak hanya dengan kata ‘anjing’ yang kadang terdengar begitu ngilu! Tidak dengan kata ‘bajingan’ yang membuatklu benar-benar seperti orang yang terbuang…
Seberapa besar salahku hingga aku harus mengemis maaf demi sepeser uang yang bahkan kau perhitungkan? Untuk apa aku hidup tapi sebenarnya pun bernapas dengan hutang? Bukankah lebih baik aku mati, seperti doamu padaku? Bukankah lebih baik aku hilang, seperti yang sudah-sudah…? Ya! Ya!! Kadang ingin kumuntahkan semua di hadapanmu, semua keluh kesah untukmu yang sebenarnya tuli!! Sangat tuli! Dan bahkan otakmu pun sudah cukup mati! lalu untuk apa aku menjelaskan, jika pada akhirnya aku juga yang kau salahkan!!
Semuanya sudah jelas. Kau mengatur matamu sedemikian rupa, hingga aku sangat terlihat menjijikkan. Pun untuk sekedar dikasihani. Jadi wajar jika kau sekarang membuangku…
Karna akhir dari semua ini sudah tertebak dari awal… kau benar-benar akan membuangku!! Seperti sampah busuk yang tidak kau inginkan.
Terimakasih sudah memandangku dengan tatapan merendahkan yang hingga sekarang masih menyisakan sekelumit kebencian. Terimakasih!! Sangat!

Sunday, February 17, 2013

Is It The End? -2-

0
Malam ini berbeda. Memang terasa lebih hangat dan lebih tenang. Tanpa hujan. Tanpa deru angin yang melewati sela jendela. Dan... tanpamu.
Siang ini seolah wajar. Aku makan... masih tak berniat untuk mencicipi nikmatnya sambal, seperti katamu. Menghitamkan kuah berminyak bakso dengan kecap manis yang rasanya hambar... hambar... hambar!!
Setelah itu aku hanya berdiam, mengoceh sekenaku dengan jagad maya yang kau benci. Menjauhkanku darimu.
Haaaah....
Aku tak mengerti. Berulang kali aku berjalan ke ruang tamu, melihat beberapa puntung rokok yang setengahnya kau hisap kemarin malam. Masih bercecar. Sebagian mengisi gelas yang kau alih fungsikan. Sebagian hanya terserak, abunya yang memutih di karpet cokelat nampak keruh.
"Pemandangan yang biasa..." pikirku.
 Sama biasanya dengan kabel-kabel komputer yang selalu ruwet walau kemarinnya sudah kau tata dengan rapi.
menghela napas. Seolah-olah tidak merasa kehilangan. Mencoba berpikir semuanya baik-baik saja...
Tapi ketika mereka bertanya kau pergi kemana, apa yang akan ku jelaskan pada mereka? sedangkan aku tak benar-benar tau alasan kau memilih melangkah keluar dari hidupku semacam ini.

semuanya masih sama.
cokelat masih terasa cokelat... hanya saja sedikit lebih pahit.
kecap masih terasa manis... hanya saja sedikit lebih hambar.
es masih terasa segar... hanya saja sedikit lebih memusingkan.

jika benar semuanya sama... jika benar ini bukan akhir...
kenapa ini semua membuatku merasa kehilangan tanpa sebuah penutup yang jelas?

Saturday, February 16, 2013

Is It The End? -1-

0
ini semua ada apa?
di awali dengan subuh yang indah... ketika dengan samar mata penuh halusinasiku bisa menyapukan sudut nyatamu dengan tenang, mencoba khusyuk takbir hingga salam di sampingku. Kesan yang kudapat adalah dingin, sejuk, hingga hangat yang kesemuanya terangkum manis dalam gerak-gerak halus yang kau buat.
aku hanya melirikmu sebentar, setan menguasaiku untuk tidur sedikit lebih lama...
hingga akhirnya pagi ini...
kau tersenyum... seperti biasa.
seperti menunjukkan kabar, "Dont worry, all is well."
aku hanya mengantarmu melangkah ke depan. Tersenyum seperti biasa. Mengucapkan "Hati-hati" seperti biasa... menutup pintu seperti biasa...

hingga saat tengah hari aku bangun kembali dari tidur yang membenahi seluruh energiku...
kau hanya sedikit tersenyum. Seperti menahan tangisan. Menelan seluruh kata-kata yang ingin kau ucapkan.
Menelan! dan terus menelannya...
bagilah denganku... sedikit saja... biar aku mengerti rasamu seperti apa...
lalu... aku mengantarmu melangkah ke depan. tersenyum tertahan. Mengucapkan "Ada apa?" yang tak terjawab dan tak punya penjelasan apapun. kemudian... menutup pintu dengan segala kegundahan.
apa iya aku salah?
lalu apa salahku?
ini kenapa?
apa ini sebuah akhir?
jika, iya....
kenapa semuanya begitu mengambang!

Ketika Saya Salah Niat

0
jika ditanya 'minder?" saya menjawab dengan tegas "YES, SIR!" atau "YES, MISS!!" *dan inilah penyakit bawaan ketika saya mulai kerjaan ini*
merasa gak ngeh ketika sempat dikritik "Bahasamu terlalu lebay..." dan... yaaaaaa... bayangkan saja seperti apa esensinya terlalu+lebay...
tapi bukankah kerjaan ini harus diimbangi dengan tahan kritik? 
saya tahan sebenernya. saya sangat paham jika saya sangat berhubungan dengan selera seseorang. dan bukankah selera itu relatif? yaa setidaknya masih ada yang bilang, "Bagus!" atau "Keren!" atau "Romantis!". itu pun saya tidak tau, apa memang kerjaan saya bener2 bagus? Apa segelintir manusia itu menyemangati saya karna tuntutan sebuah kata 'friendship'...? *ini salah satu pikiran buruk* atau kadang mereka sungkan untuk berkata, "Kamu alay!"... dan berkata terpaksa, "Udah lumayan kok." entah.. ini lumayan beneran atau gimana... dan ketika pikiran-pikiran buruk itu mulai meracuni saya.... saya benar-benar sadar kalau saya goblok... hahahaaaa XD semacam ogeb. :D
bukankah kebenaran akan seperti apa penilaian-penilaian mereka itu adalah urusan mereka dengan Tuhan... :)

yaa setidaknya mereka sudah berbaik hati lah mau liat kerjaan saya... yang kadang bikin sakit mata. hehehee :D

lalu... apa hubungannya dengan salah niat?
everytime *kalau sempet*  saya ngerenung, "Untuk apa saya ngelakuin ini semua?"
  1. jika memang saya ngelakuin kerjaan ini demi sebuah pujian, maka ketika kata-kata 'cela' itu datang.... akhirnya saya juga akan kembali seperti ini. bisa dikatakan terpuruk. kemudian minder. kemudian memilih untuk berhenti total karna ngerasa benar benar nggak pantes buat hidup dan berkarya di muka bumi ini
  2. jika memang saya ngelakuin kerjaan ini demi sebuah ketenaran, maka dunia saya serasa runtuh dan benar-benar habis ketika dunia tidak mengenal dan berpihak pada saya...
  3. jika memang saya ngelakuin ini karna alasan buat gaya-gayaan, sepertinya ada gaya yang lebih keren daripada rela begadang demi ngerampungin naskah-naskah yang belum tentu diterima sama penerbit...
  4. jika memang  saya ngelakuin ini demi uang... maka... saya tidak tau... hahahaaaa karna sedikit banyak saya nganggap ini semua sebagai kerjaan. *jujur* :) tapi entah, mungkin uang adalah alasan kesekian yang kapan saja bisa menjadi alasan utama saya buat kerja kayak gini. hahahahaaaaa 
Lalu.. sebenarnya apa yang sedang saya lakukan?
yang pertama dan yang paling utama adalah masalah hobby.
hobby saya ngomong, dan di facebook udah nggak aman, dan di twitter terlalu cerewet *resiko follower ilang gara-gara ngerasa saya mengganggu kedamaian Timeline mereka yang adem ayem* hahahahaaaa
lalu?
saya menulis... lebih tepatnya berbicara dengan diri sendiri. tawar menawar masalah logika dan perasaan dengan siapapun dan bagaimanapun my self... pada awalnya memang semua berjalan lancar... saya nulis dan sekedar nulis... bukan sebagai sebuah keinginan lagi... tapi sebagai sebuah kebutuhan...
lalu... saya tersentil dengan 'lets publish your self!'... menerbitkan apa yang saya bisa buat...
dibantu dengan mantan sensei saya yang bener-bener bersemangat gegap gempita dan apa adanya mempertontonkan karya saya pada awal-awal 2009. kenapa saya sebut mantan ? karna dialah orang yang bener-bener ngritik saya abis-abisan demi improvement and development tulisan-tulisan saya, tapi dia juga yang memberikan saran agar saya berhenti nulis, dan membenci tulisan saya saat ini, dan... mempersalahkan setiap tulisan saya... dan.... lain sebagainya... hahahaaaaaaa *But, Ima made hontou ni arigatou*
baiklah! itu semua hanyalah masalalu yang indah dan masa sekarang yang sedikit suram. :)
lupakan!
daaaaaan... bukan setan namanya kalau nggak bikin rusuh!!
dan kerusuhan-kerusuhan kecil pun terjadi...
setelah saya vakum 1 tahun dari dunia kecil saya ini, saya menemukan kembali sebuah jiwa yang hilang....
satu karya saya 'Langkah Putih' berhasil menembus lomba antologi cerpen berjudul 'Inspirasi Cinta'.
kemudian saya ditanya oleh teman-teman saya, "Kamu penulis?"
And I dont know what the answer really is.
karna niat saya nulis yaa cuma nulis aja, nggak niat sepenuhnya ikut lomba, kemudiaaan malah nembus. -_-
lalu saya lanjutkan... menulis... menulis... dan menulis.... *ketagihan royalti*
lebih memaksakan diri.
hahahahaaa...
semuanya... NIHIL.
ketara nggak ikhlas banget sih, ngejar materi doang kayaknya.
jadi ya sudah... jika ingin memulai segala sesuatu... bener-bener.... LURUSKAN NIAT!!!!!
niat itu kayak borderline... membingkai setiap gerak kamu...
lakukan semua dengan keikhlasan *walau saya sadar, kadang ikhlas itu hanya sebatas teori*
tapi teori bukankah cuma sebatas coretan doang kalau nggak ada realisasi?
:)
hayoo.. yang ngaku udah gedhe... pasti ngerti kan what must we going to do... :)


haaaah... yaa sudahlah... :)
sebenernya hidup ini menyenangkan kawan... cuma kadang kebawa pikiran negatif aja. nyangka yang jelek-jelek mulu...
Bukankah Tuhan seperti apa yang kamu sangkakan?
begitu juga masalah... bukankah sesuatu hal akan menjadi masalah jika kamu menganggapnya sebagai masalah...?
:)

*haaaaah.... *
memotivasi dirisendiri itu memang selalu menyenangkan
KALAU BUKAN DIRI SENDIRI DAN SEKARANG, LALU MAU SIAPA LAGI DAN KAPAN?

sekian... 
Salah jalan itu kadang ngantar kita buat ke arah jalan yang bener
tapi kadang nyesatin juga
~tergantung cara pandang masing-masing~

*maaf udah cerewet... :)


Sunday, February 3, 2013

When I see your face...

0


Bait Pagi…
Kau (fotomu) masih tersenyum manis seperti biasa, dalam bingkaian sepetak kecil wallpaper handphone yang selalu ku genggam... melengkapi sejengkal rasa yang ada dan tiada... rasa sesak yang kadang membuncah membuatku tersenyum dan manyun...

"Selamat pagi, cinta..." kataku pada fotomu yang membalasku dengan senyuman bisu.

Dan ini adalah kegiatanku setiap hari…
Ku pandangi netra cantikmu lekat-lekat… Hingga mungkin aku hapal diameter bola matamu, setidaknya hingga aku paham dan mengerti, siapa tau mata di fotomu bisa berkedip, dan memandangku hangat seperti dulu…
Haaah… entahlah…
"Rasanya aku sudah bisa tidur dengan tenang..." aku pun tersenyum, setelah berhasil menyelimuti fotomu yang kedinginan.

Dan paginya…
"Selamat pagi," sapaku padamu yang menebarkan senyum seperti biasa. ku lepaskan kau dari jeratan frame foto yang memenjarakanmu, "Mau makan apa, sayang?"
Dan kau tetap diam, seperti biasanya pula.
Tapi aku tau, arti di balik senyum simpelmu itu bahwa kau adalah ketulusan yang tersenyum untukku.

Lalu malamnya… aku tetap gila!
"Selamat malam, cinta," sapaku pada fotomu yang dengan setia memandangku tanpa berkedip. Tatapan yang sulit untuk diartikan, yang jelas, aku yakin tatapan itu adalah tatapan penuh kerinduan darimu yang tlah lama menghilang.
"Kau mau?" tanyaku sumringah sambil meletakkan secangkir mocca panas, tepat di depanmu, "Minum gih, selagi panas. Ntar keburu dingin lho..."

Aku memang sudah terlalu sakit!!
Tapi setidaknya aku bisa mengobati kerinduanku dengan cara gila seperti ini…
"Hai, bangun dulu... sudah jam segini, sayang..." ujarku semanis mungkin tetap padamu yang sudah tersenyum mendahuluiku. Senyum dan tatapan yang sama, yang sama-sama selalu indah....
Aku menyingkapkan selimut yang menutupi sebagian wajahmu, mengusap pipimu pelan. Pipi yang terasa dingin!! Pipi yang menyakitkanku, ketika aku tau yang ku usap hanyalah gambaran wajahmu yang tertutup kaca pigura yang tak sekalipun bicara menanggapi ucapanku...
"Sayang, aku mengerti," kataku lirih sambil meletakkan fotomu di pinggir jendela, "Kau suka dingin pagi kan?"

Hingga kegilaanku memuncak!!
Aku mencoba bicara pada fotonya untuk mengobati rinduku pada suaranya… “Tenanglah, aku bisa mendengar bisikanmu lewat desir angin yang menerpaku, kok!”
"Kau tau tidak? Warna langitnya senja ini sama seperti warna matamu yang indah," kupandangi paras sempurnamu... Matamu selalu berkata bahwa kau adalah kesetiaan yang menjagaku...
"Apa? Aku berlebihan? Hahaaa! Coba lihatlah sendiri..." kataku. Sekarang bersama fotomu ini kupandangi senja yang mataharinya menyapa kita, di jendela kehidupan yang tlah lama tak terbuka...
"Apa katamu? Aku adalah bulan yang menjemputmu?" aku tertawa ringan disamping jasad gambarmu yang tak hentinya tersenyum..."Kau manis!”

Sampai titik jenuh itu datang! Aku muak merindukannya! Aku muak tak tau dimana dia! Aku takut dia menghilang! Aku takut! Tapi aku juga marah…!!!
"Bicaralah!!!" teriakku lantang memecah gendang telingamu yang tak sedikitpun tergetar, tersekat oleh kaca tebal murahan yang ku sematkan di atasmu.
"Aku ingin mendengar suaramu!!" emosiku mulai lepas kendali, menyentuh pipi tirusmu yang dingin datar, terbatasi kaca bening yang ku selimutkan, "Kenapa kau hanya tersenyum?"
Dan kau tetap tersenyum seperti tadi. Tak berubah!! Tak sedikitpun!!
"Lalu aku harus bagaimana?" tangis itu pun membuncah dari hatiku yang meledak-ledak.
Espresimu sama. Menyunggingkan senyum menawan yang selalu ingin ku miliki. Yang tertutup kaca dan berbingkai pigura…
Lalu?
Aku menyerah. Menyelami kepedihan pada kepasrahan yang terlalu dangkal di otakku.
"Aku mencintaimu," dekapku sehangat mungkin padamu yang dingin. Ah! Tidak! Bukan!
Bukan padamu... Hanya pada fotomu.


Di malam ini.
Yang kosong.
"Matilah..."

hidup dan mati

0
"kematian ya?" tanyaku sambil tersenyum, mencoba menguatkanmu walaupun aku tau itu adalah hal yang sia-sia.
"ya! amat sangat dekat..." kau mengatur napas, menatanya utuh dari puing-puing harap yang masih ada. Kemudian bertanya dengan suara pelan yang mencoba dikuat-kuatkan, "Hei, jelaskan padaku... apa semacam ini yang dinamakan kronis?" sambil menyeka darah yang mengintip dari sudut bibir pucatmu, sisa yang kau muntahkan.
lalu kau terdiam. menangis.
"Tenanglah... semua akan baik-baik saja." kalimat bodoh meluncur aneh dengan nada bicaraku yang sumbang. lalu...? sama! aku terdiam... menangis.
dan...
..
.
memelukmu.

 ***
  "sudah mengeluarkan darah," kau tersenyum di sela kalimatmu yang mengambang, "bukankah aku tinggal menunggu mati saja? saat aku tau aku akan mati seperti ini, aku baru sadar jika banyak mimpiku yg belum kusentuh, salah satunya adalah mimpiku untuk membahagiakan Tuhan," katamu pelan... sangat pelan.

aku menghela. dan sangat mengerti apa yg kurasakan... yaitu aku dan kau tak pernah sepesimis ini tentang kehidupan.

Kau

0
"Mungkin akan ada saat spesial dimana aku menjadi satu-satunya alasanmu untuk kembali tersenyum," katamu pelan. Lalu menghilang, menyisakan sebuah amarah kecil yang diam-diam kurindukan.

YOU

0


Izinkan aku bertahan lebih lama daripada ini, Tuhan....
Walau hanya bisa menarik napas.
Pelan... merasakan bahwa aku masih benar-benar bisa bernapas....
Lalu tesenyum pasrah ketika merabai jantung yang tak berpacu sekencang dahulu...
Kau tau?
Rasa-rasanya memang menyakitkan seperti ini,
Ketika aku sungguh sadar bahwa hatiku telah hilang...
..
.
Tercuri olehmu...

            Aku tahu jika perasaan ini adalah sebuah kesalahan yang kubentuk sejak awal. Karna ketika aku melangkah untuk mendekatinya pertama kali, aku sudah tahu jika aku salah langkah. Aku melangkah perlahan-lahan, mencoba mendekatinya dengan seluruh keberanian yang ada walaupun aku tak benar-benar tahu bagaimana memulai sebuah percakapan yang romantis, yang mampu menghentikan sebuah tangis yang dari setengah jam yang lalu tak kunjung usai.
     Dan…
     Satu langkah aku mendekatinya. Dan dia tetap menangis. Memeluk kakinya dengan sangat erat di sudut ruangan itu.
     Dua langkah aku mendekatinya. Dia memelankan tangisnya. Meregangkan pelukannya. Menarik napas panjang dan membuangnya secara perlahan.
     Tiga langkah aku mendekatinya. Dia mulai mendongak. Menunjukkan wajah ayunya yang penuh gurat kepedihan. Tapi sungguh! Dia sangat cantik!!
     Empat langkah… dan aku benar-benar tahu dia tertegun sejenak melihat kedatanganku. Ekspresinya datar. Wajah skeptisnya masih saja terlihat menarik. Dan aku… semakin tertarik untuk mendekatinya…
     Lima langkah… dan dia perlahan-lahan mulai menunduk. Kembali menenggelamkan tangisnya disela pelukannya yang mulai dieratkan lagi.
     Enam langkah… dan aku sangat-sangat mengerti bahwa dia tidak peduli dengan kehadiranku. Dia mempunyai dunia sendiri yang tak sedikitpun bisa kujamah.
     Dan…
     Tujuh langkah… langkah terakhirku untuk mendekatinya. Dan aku… memilih untuk berbalik. Memilih melihatnya dari kejauhan, dari sudut lain ruang ini yang tak pernah dia anggap ada. Memilih bersembunyi di balik pilar-pilar besar keputusasaan yang kubangun sendiri. Melihat kecantikannya dengan mengendap-endap di balik tumpukan buku. Dan… sekali lagi, aku hanya diam, ketika melihatnya mulai menangis, kemudian menyeka airmatanya sendiri dengan penuh ketegaran… dan dari hal ini lah aku sangat tahu, jika aku mulai menyukai sisi cantiknya yang sangat menyedihkan itu. Tapi, seperti yang sudah-sudah… selama ini… aku diam.
     “Rhe…?”
     Aku mulai mencuri pandang ke arah datangnya suara serak itu. Dengan sangat jelas, kulihat seorang wanita seumuranku mulai menepuk bahu gadis yang dipanggilnya ‘Rhe’ itu. Mengelus pelan kepalanya. Menopangnya untuk berdiri. Mengajaknya untuk duduk di kursi sudut yang tepat berada di depanku.
     Wanita berambut ikal itu kemudian menatapnya dengan sangat lekat, seperti meminta sebuah penjelasan akan pertanyaan ‘kenapa?’ yang mungkin sudah dia simpan semenjak dia melihatnya menangis sendirian.
     Dan kemudian, “Rhea… kenapa?”
     Dan aku… tersenyum.
     Ini adalah sebuah langkah yang benar-benar membuat senyumku mengembang walau pada kenyataannya aku hanya terdiam di sini. akhirnya, aku tahu namanya.
     Dia Rhea… entah tertulis ‘Rea’ atau ‘Rhea’, tapi aku lebih suka memanggilnya ‘Rhea’, menyisipkan huruf ‘H’ di dalamnya. Seperti namaku… Ishi. Bukan ‘Isi’.

***

     Semuanya akan tetap sama saja. Ketika aku tak beranjak dari tempatku bergerilya mengamatinya, dari tumpukan buku yang menenggelamkanku dari pandangannya. Dari sudut sini… sudut dengan sedikit celah pengharapan akan hadirnya yang tiba-tiba menengok kearahku dan tersenyum manis, menghapus luka perihnya yang dia tumpahkan di perpustakaan ini.
     Aku beberapa kali mencuri pandang ke arahnya. Kali ini dia, maksudku Rhea, sedang mengamati satu buku referensi tebal yang dia ambil secara cepat dari rak pertama yang berada di samping pintu. Berani taruhan, dia hanya mengambilnya secara acak. Aku benar-benar tahu jika dia langsung menyambar buku tebal itu tanpa membaca judulnya. Dan sekarang pun aku juga benar-benar melihatnya yang sedang menaruh mata pada buku tebal lusuhnya itu. Dia tertunduk. Pandangannya lurus ke arah buku yang berada di hadapannya. Sampul buku itu terlihat rapi. Tak terbuka. Bahkan dari sini, dari tempatku mengagumi sosok indahnya, aku bisa melihat jemari lentiknya tak sedikitpun menyentuh lembaran-lembaran yang kian buram itu.
     “Rhe?”
     Aku kembali menajamkan mata. Suara berat itu memanggilnya. Memanggil Rhea.. Ya! Laki-laki itu memanggil gadis yang kukagumi ini!!
     Sebuah panggilan yang membuatku melihat Rhea tersenyum. Sangat lembut dan benar-benar lembut! Sungguh! lengkung bibir dan lengkung matanya sangat indah. Membentuk sabit tipis yang memukau. Ini beribu-ribu lebih baik daripada aku melihatnya menangis seperti yang sudah-sudah.
     “Rega…?”
     Dan adegan selanjutnya adalah sebuah adegan yang ingin kuhilangkan dalam skenario drama romantis yang kubuat bersama Rhea!!! Sungguh! aku membenci adegan ini! adegan dimana dengan sangat hangat laki-laki bernama Rega itu mulai memeluknya. Merengkuh tubuh gadisku dengan sangat gagah. Lalu Rhea? Dia dengan tersenyum manja, membalas pelukan Rega. “Rega, kau membuatku khawatir setengah mati! aku mulai menangisimu setiap hari selama kau tak mengabariku seperti satu bulan ini!!”
Dan Rega hanya menepuk bahu Rhea pelan, “Maaf, sayang…”
Lalu Rhea hanya mengangguk. Tersenyum mengiyakan dengan sangat tenang.
Lalu aku? Aku?
Aku hanya tersenyum. Kembali tenggelam dalam tumpukan buku yang benar-benar menutup diriku dari dunianya. Dari dunia Rhea dan Rega…
Bukankah dari awal sudah kubilang bahwa aku sudah salah langkah? Tahu darimana? Dari bahasa tubuh Rhea yang dulu sesekali menangis sambil mengelus perutnya. Lapar? ahahahahaaaa...
     Dan sekarang, terjawab, “Rhe… Aku akan tanggungjawab kok.”
     Dan mereka tersenyum.
     Dan aku memilih untuk tuli! Tuli dan buta!!

***

Note : mengisi waktu luang dengan nulis segeje ini. hahahaaaaa :D
Gomen ne… m(_ _)m